NASEHAT ABU BAKAR

🌟 10 Nasihat Abu Bakar Ash-Shiddiq

1. Mengenai Ketakwaan dan Dosa

(1) لَا تَنْظُرُوا إِلَى صِغَرِ الْمَعْصِيَةِ، وَلَكِنِ انْظُرُوا إِلَى عَظَمَةِ مَن عَصَيْتُمْ

lā tanẓurū ilā ṣighari al-ma‘ṣiyati, wa lākininẓurū ilā ‘aẓamati man ‘aṣaitum.

"Janganlah kalian melihat kecilnya suatu maksiat, tetapi lihatlah betapa Agungnya Dzat yang kalian maksiati."

(2) أَكْبَرُ الذَّنْبِ أَنْ تَكْذِبَ، وَأَكْذَبُ الْكِذْبِ مَنْ لَا يَخَافُ اللَّهَ

akbaru aż-żanbi an takżiba, wa akżabu al-kiżbi man lā yakhāfu Allāha.

"Dosa terbesar adalah berdusta, dan pendusta terbesar adalah orang yang tidak takut kepada Allah."

2. Mengenai Akhlak dan Nilai

(3) لاَ يَسْتَوِيْ فِيْ مِيْزَانِ اللهِ تَعَالَى حُسْنُ خُلُقٍ وَتَرْكُ مَا لَا يَعْنِيْهِ

lā yastawī fī mīzāni Allāhi ta‘ālā ḥusnu khuluqin wa tarku mā lā ya‘nīhi.

"Tidaklah seimbang dalam timbangan Allah antara akhlak yang baik dan meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya."

(4) أَصْدَقُ الصِّدْقِ اَلأَمَانَةُ، وَأَكْذَبُ الكَذِبِ اَلْخِيَانَةُ

aṣdaqu ṣ-ṣidqi al-amānatu, wa akżabu al-każibi al-khiyānatu.

"Kejujuran yang paling benar adalah amanah, dan kebohongan yang paling dusta adalah khianat."

3. Mengenai Kehidupan dan Kepemimpinan

(5) إِنِّي قَدْ وُلِّيتُ عَلَيْكُمْ وَلَسْتُ بِخَيْرِكُمْ، فَإِنْ أَحْسَنْتُ فَأَعِينُونِي، وَإِنْ أَسَأْتُ فَقَوِّمُونِي

innī qad wullītu ‘alaikum wa lastu bi khairikum, fa in aḥsantu fa a‘īnūnī, wa in asa’tu fa qawwimūnī.

"Sungguh aku telah diangkat menjadi pemimpin kalian, padahal aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Jika aku berbuat baik, maka bantulah aku; dan jika aku berbuat salah, maka luruskanlah aku."

(6) تَرُكُ الشَّيْءِ الَّذِيْ يَجْلِبُ لَكَ النَّدَمَ وَلَا يَجْلِبُ لَكَ النَّفْعَ

taruku sy-syai’i allażī yajlibu laka an-nadama wa lā yajlibu laka an-naf‘a.

"Tinggalkanlah sesuatu yang membawa penyesalan bagimu dan tidak membawa manfaat bagimu."

(7) أَقِلُّوْا مِنْ مُخَالَطَةِ النَّاسِ إِلَّا بِخَيْرٍ

aqillū min mukhālaṭati an-nāsi illā bi khairin.

"Kurangilah bergaul dengan manusia kecuali dalam kebaikan."

4. Mengenai Akhirat dan Pengendalian Diri

(8) مَنْ دَخَلَ الْقَبْرَ بِلَا زَادٍ، فَكَأَنَّمَا رَكِبَ الْبَحْرَ بِلَا سَفِيْنَةٍ

man dakhala al-qabra bi lā zādin, fa ka annamā rakiba al-baḥra bi lā safīnatin.

"Barangsiapa yang memasuki kubur tanpa bekal, maka seolah-olah ia menaiki lautan tanpa perahu."

(9) لَنْ يَجْمَعَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى عَبْدٍ خَوْفَيْنِ وَلَا أَمْنَيْنِ

lan yajma‘a Allāhu ta‘ālā ‘alā ‘abdin khaufaini wa lā amnaini.

"Allah ta'ala tidak akan mengumpulkan dua ketakutan atau dua rasa aman pada diri seorang hamba." (Jika ia takut kepada-Nya di dunia, ia akan aman di akhirat, dan sebaliknya).

(10) أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ أَنْ تَقْوَى شَهْوَتُكُمْ فِي نِسَائِكُمْ

akhwafu mā akhāfu ‘alaikum an taqwā syahwatukum fī nisā'ikum.

"Hal yang paling aku takutkan atas kalian adalah kuatnya syahwat (nafsu) kalian terhadap wanita-wanita kalian (yaitu godaan dunia)."

Kembali ke Atas Kumpulan Nasihat

Comments

Popular posts from this blog

BUKU DIGITAL PERCAKAPAN BAHASA INGGRIS & ARAB