YASIN AYAT 33-50
Lanjutan Surah Yasin (36): Ayat 33 s/d 50
Wa āyatul lahumul-arḍul-maitatu aḥyaināhā wa akhrajnā min-hā ḥabban fa minhu ya'kulūn.
Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah bumi yang mati (tandus). Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka dari (biji-bijian) itu mereka makan.
Wa ja‘alnā fīhā jannātim min nakhīliw wa a‘nābiw wa fajjarnā fīhā minal-‘uyūn.
Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air,
Liya'kulū min ṡamarihī wa mā ‘amilat-hu aidīhim, a falā yasykurūn.
agar mereka dapat makan dari buahnya, dan dari hasil usaha tangan mereka. Maka mengapa mereka tidak bersyukur?
Subḥānal-lażī khalaqal-azwāja kullahā mimmā tumbitul-arḍu wa min anfusihim wa mimmā lā ya‘lamūn.
Maha Suci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.
Wa āyatul lahumul-lailu naslakhū min-hun-nahāra fa iżā hum muẓlimūn.
Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari (malam) itu, maka seketika itu mereka (berada dalam) kegelapan,
Wasy-syamsu tajrī limustaqarril lahā, żālika taqdīrul-‘azīzil-‘alīm.
dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.
Wal-qamara qaddarnāhu manāzila ḥattā ‘āda kal-‘urjūnil-qadīm.
Dan telah Kami tetapkan bagi bulan tempat-tempat peredarannya, sehingga (setelah dia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah dia seperti bentuk tandan yang tua.
Lasy-syamsu yambagī lahā an tudrikal-qamara wa lal-lailu sābiqun-nahār, wa kullun fī falakiy yasbaḥūn.
Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.
Wa āyatul lahum annā ḥamalnā żurrīyatahum fil-fulkil-masyḥūn.
Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam kapal yang penuh muatan,
Wa khalaqnā lahum mim miṡlihī mā yarkabūn.
dan Kami ciptakan (pula) untuk mereka (angkutan lain) seperti apa yang mereka kendarai.
Wa in nasya' nugriq-hum falā ṣarīkha lahum wa lā hum yunqażūn.
Dan jika Kami menghendaki, Kami tenggelamkan mereka, maka tidak ada penolong bagi mereka dan tidak (pula) mereka diselamatkan.
Illā raḥmatam minnā wa matā‘an ilā ḥīn.
Kecuali (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk kesenangan hingga waktu tertentu.
Wa iżā qīla lahumuttaqū mā baina aidīkum wa mā khalfakum la‘allakum turḥamūn.
Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Takutlah kamu akan siksa yang di hadapanmu (di dunia) dan siksa yang di belakangmu (di akhirat) agar kamu mendapat rahmat."
Wa mā ta'tīhim min āyatim min āyāti rabbihim illā kānū ‘an-hā mu‘riḍīn.
Dan setiap tanda dari tanda-tanda (kebesaran) Tuhan yang datang kepada mereka, mereka selalu berpaling darinya.
Wa iżā qīla lahum anfīqū mimmā razaqakumullāhu qālal-lażīna kafarū lil-lażīna āmanū a nuṭ‘imu mal lau yasyā'ullāhu aṭ‘amahū in antum illā fī ḍalālim mubīn.
Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Infakkanlah sebagian dari rezeki yang diberikan Allah kepadamu," maka orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, "Apakah pantas kami memberi makan kepada orang-orang yang sekiranya Allah menghendaki niscaya Dia memberinya makan? Kamu benar-benar hanyalah dalam kesesatan yang nyata."
Wa yaqūlūna matā hāżal-wa‘du in kuntum ṣādiqīn.
Dan mereka (orang-orang kafir) berkata, "Kapankah janji (hari Kebangkitan) itu, jika kamu orang yang benar?"
Mā yanẓurūna illā ṣaiḥataw wāḥidatan ta'khużuhum wa hum yakhiṣṣimūn.
Mereka hanya menunggu satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar.
Falā yastaṭī‘ūna tauṣiyataw wa lā ilā ahlihim yarji‘ūn.
Maka mereka tidak mampu membuat suatu wasiat pun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarganya.
Comments
Post a Comment